Makalah Administrasi dan Supervisi

MAKALAH

ADMINISTRASI DAN SUPERVISI PENDIDIKAN

Dosen Pembimbing : Alfian

Di susun oleh :

Kelompok 5

Wakhid Oktaviansyah ( TE.080646 )

Nanang Kamaluddin ( TE.080612)

Zulyanto ( TE.080648 )

JURUSAN TADRIS BAHASA INGGRIS

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

SULTHAN THAHA SYAIFUDDIN JAMBI

TAHUN AJARAN 2009/2010

KEPALA SEKOLAH sebagai PEMIMPIN

dan SUPERVISOR

Dalam upaya meningkatan mutu pendidikan, kompetensi guru merupakan salah satu faktor yang amat penting. Kompetensi guru tersebut meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi personal, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Upaya untuk meningkatkan kompetensi guru dapat dilakukan melalui optimalisasi peran kepala stsekolah, sebagai educator, manajer, administrator, supervisor,leader, pencipta iklim kerja dan wirausahawan.
Kata kunci : kompetensi guru, peran kepala sekolah

A. Pendahuluan

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional, pemerintah khususnya melalui DEPDIKNAS terus menerus berupaya melakukan berbagai perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan kita. Salah satu upaya yang sudah dan sedang dilakukan, yaitu berkaitan dengan faktor guru. Lahirnya Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada dasarnya merupakan kebijakan pemerintah yang didalamnya memuat usaha pemerintah untuk menata dan memperbaiki mutu guru di Indonesia. Michael G. Fullan yang dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan bahwa “educational change depends on what teachers do and think…”. Pendapat tersebut mengisyaratkan bahwa perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan sangat bergantung pada “what teachers do and think “. atau dengan kata lain bergantung pada penguasaan kompetensi guru.

Jika kita amati lebih jauh tentang realita kompetensi guru saat ini agaknya masih beragam. Sudarwan Danim (2002) mengungkapkan bahwa salah satu ciri krisis pendidikan di Indonesia adalah guru belum mampu menunjukkan kinerja (work performance) yang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja guru belum sepenuhnya ditopang oleh derajat penguasaan kompetensi yang memadai, oleh karena itu perlu adanya upaya yang komprehensif guna meningkatkan kompetensi guru.

B. Hakekat Kompetensi Guru

Apa yang dimaksud dengan kompetensi itu ? Louise Moqvist (2003) mengemukakan bahwa “competency has been defined in the light of actual circumstances relating to the individual and work. Sementara itu, dari Trainning Agency sebagaimana disampaikan Len Holmes (1992) menyebutkan bahwa : ” A competence is a description of something which a person who works in a given occupational area should be able to do. It is a description of an action, behaviour or outcome which a person should be able to demonstrate.”

Dari kedua pendapat di atas kita dapat menarik benang merah bahwa kompetensi pada dasarnya merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan (be able to do) seseorang dalam suatu pekerjaan, berupa kegiatan, perilaku dan hasil yang seyogyanya dapat ditampilkan atau ditunjukkan.

Agar dapat melakukan (be able to do) sesuatu dalam pekerjaannya, tentu saja seseorang harus memiliki kemampuan (ability) dalam bentuk pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan keterampilan (skill) yang sesuai dengan bidang pekerjaannya.

Mengacu pada pengertian kompetensi di atas, maka dalam hal ini kompetensi guru dapat dimaknai sebagai gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seseorang guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik berupa kegiatan, berperilaku maupun hasil yang dapat ditunjukkan..

Lebih jauh, Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi guru, yaitu :

  1. Kompetensi profesional; memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya, memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya.
  2. Kompetensi kemasyarakatan; mampu berkomunikasi, baik dengan siswa, sesama guru, maupun masyarakat luas.
  3. Kompetensi personal; yaitu memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. Dengan demikian, seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Sementara itu, dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu :

  1. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: (a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (b) pemahaman terhadap peserta didik; (c)pengembangan kurikulum/ silabus; (d) perancangan pembelajaran; (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; (f) evaluasi hasil belajar; dan (g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
  2. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang: (a) mantap; (b) stabil; (c) dewasa; (d) arif dan bijaksana; (e) berwibawa; (f) berakhlak mulia; (g) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (h) mengevaluasi kinerja sendiri; dan (i) mengembangkan diri secara berkelanjutan.
  3. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : (a) berkomunikasi lisan dan tulisan; (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
  4. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: (a) konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar; (b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; (d) penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan (e) kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.

Sebagai pembanding, dari National Board for Profesional Teaching Skill (2002) telah merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika, yang menjadi dasar bagi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru, dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do, didalamnya terdiri dari lima proposisi utama, yaitu:

  1. Teachers are Committed to Students and Their Learning yang mencakup : (a) penghargaan guru terhadap perbedaan individual siswa, (b) pemahaman guru tentang perkembangan belajar siswa, (c) perlakuan guru terhadap seluruh siswa secara adil, dan (d) misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir siswa.
  2. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Students mencakup : (a) apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasikan, disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain, (b) kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran (c) mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan berbagai cara (multiple path).
  3. Teachers are Responsible for Managing and Monitoring Student Learning mencakup: (a) penggunaan berbagai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran, (b) menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting kelompok (group setting), kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keberhasilan siswa, (c) menilai kemajuan siswa secara teratur, dan (d) kesadaran akan tujuan utama pembelajaran.
  4. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience mencakup: (a) Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik, (b) guru meminta saran dari pihak lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan praktek pembelajaran.
  5. Teachers are Members of Learning Communities mencakup : (a) guru memberikan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan profesional lainnya, (b) guru bekerja sama dengan tua orang siswa, (c) guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat.

Secara esensial, ketiga pendapat di atas tidak menunjukkan adanya perbedaan yang prinsipil. Letak perbedaannya hanya pada cara pengelompokkannya. Isi rincian kompetensi pedagodik yang disampaikan oleh Depdiknas, menurut Raka Joni sudah teramu dalam kompetensi profesional. Sementara dari NBPTS tidak mengenal adanya pengelompokan jenis kompetensi, tetapi langsung memaparkan tentang aspek-aspek kemampuan yang seyogyanya dikuasai guru.

Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian penguasaan kompetensinya. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran siswa. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang berkembang dan berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah siswanya. Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan baik dari siswa, orang tua maupun masyarakat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus.

Disamping itu, guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pembelajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitian guru tidak terjebak pada praktek pembelajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif, namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para siswanya. Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pembelajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung.

C. Peranan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kompetensi Guru

Agar proses pendidikan dapat berjalan efektif dan efisien, guru dituntut memiliki kompetensi yang memadai, baik dari segi jenis maupun isinya. Namun, jika kita selami lebih dalam lagi tentang isi yang terkandung dari setiap jenis kompetensi, –sebagaimana disampaikan oleh para ahli maupun dalam perspektif kebijakan pemerintah-, kiranya untuk menjadi guru yang kompeten bukan sesuatu yang sederhana, untuk mewujudkan dan meningkatkan kompetensi guru diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dan komprehensif.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui optimalisasi peran kepala sekolah. Idochi Anwar dan Yayat Hidayat Amir (2000) mengemukakan bahwa “ kepala sekolah sebagai pengelola memiliki tugas mengembangkan kinerja personel, terutama meningkatkan kompetensi profesional guru.” Perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional di sini, tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi semata, tetapi mencakup seluruh jenis dan isi kandungan kompetensi sebagaimana telah dipaparkan di atas.

Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006), terdapat tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai : (1) educator (pendidik); (2) manajer; (3) administrator; (4) supervisor (penyelia); (5) leader (pemimpin); (6) pencipta iklim kerja; dan (7) wirausahawan;

Merujuk kepada tujuh peran kepala sekolah sebagaimana disampaikan oleh Depdiknas di atas, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas hubungan antara peran kepala sekolah dengan peningkatan kompetensi guru.


1. Kepala Sekolah sebagai Educator ( Pendidik )
Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru merupakan pelaksana dan pengembang utama kurikulum di sekolah. Kepala sekolah yang menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya tentu saja akan sangat memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya, sekaligus juga akan senantiasa berusaha memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat secara terus menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.

2. Kepala Sekolah sebagai Manajer
Dalam mengelola tenaga kependidikan, salah satu tugas yang harus dilakukan kepala sekolah adalah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan profesi para guru. Dalam hal ini, kepala sekolah seyogyanya dapat memfasiltasi dan memberikan kesempatan yang luas kepada para guru untuk dapat melaksanakan kegiatan pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah, –seperti : MGMP/MGP tingkat sekolah, in house training, diskusi profesional dan sebagainya–, atau melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan di luar sekolah, seperti : kesempatan melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang diselenggarakan pihak lain.


3. Kepala Sekolah sebagai Administrator
Khususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan, bahwa untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak lepas dari faktor biaya. Seberapa besar sekolah dapat mengalokasikan anggaran peningkatan kompetensi guru tentunya akan mempengaruhi terhadap tingkat kompetensi para gurunya. Oleh karena itu kepala sekolah seyogyanya dapat mengalokasikan anggaran yang memadai bagi upaya peningkatan kompetensi guru.


4. Kepala Sekolah sebagai Supervisor
Untuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran, secara berkala kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode, media yang digunakan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (E. Mulyasa, 2004). Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam melaksanakan pembelajaran, — tingkat penguasaan kompetensi guru yang bersangkutan–, selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut tertentu sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran.
Jones dkk. sebagaimana disampaikan oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukakan bahwa “ menghadapi kurikulum yang berisi perubahan-perubahan yang cukup besar dalam tujuan, isi, metode dan evaluasi pengajarannya, sudah sewajarnya kalau para guru mengharapkan saran dan bimbingan dari kepala sekolah mereka”. Dari ungkapan ini, mengandung makna bahwa kepala sekolah harus betul-betul menguasai tentang kurikulum sekolah. Mustahil seorang kepala sekolah dapat memberikan saran dan bimbingan kepada guru, sementara dia sendiri tidak menguasainya dengan baik.


5. Kepala Sekolah sebagai Leader ( Pemimpin )
Gaya kepemimpinan kepala sekolah seperti apakah yang dapat menumbuh-suburkan kreativitas sekaligus dapat mendorong terhadap peningkatan kompetensi guru ? Dalam teori kepemimpinan setidaknya kita mengenal dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, seorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Kendati demikian menarik untuk dipertimbangkan dari hasil studi yang dilakukan Bambang Budi Wiyono (2000) terhadap 64 kepala sekolah dan 256 guru Sekolah Dasar di Bantul terungkap bahwa ethos kerja guru lebih tinggi ketika dipimpin oleh kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada manusia.
Kepemimpinan seseorang sangat berkaitan dengan kepribadian dan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin dalam sifat-sifat sebagai barikut : (1) jujur; (2) percaya diri; (3) tanggung jawab; (4) berani mengambil resiko dan keputusan; (5) berjiwa besar; (6) emosi yang stabil, dan (7) teladan (E. Mulyasa, 2003).


6. Kepala Sekolah sebagai Pencipta Iklim Kerja
Budaya dan iklim kerja yang kondusif akan memungkinkan setiap guru lebih termotivasi untuk menunjukkan kinerjanya secara unggul, yang disertai usaha untuk meningkatkan kompetensinya. Oleh karena itu, dalam upaya menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif, kepala sekolah hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) para guru akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan, (2) tujuan kegiatan perlu disusun dengan dengan jelas dan diinformasikan kepada para guru sehingga mereka mengetahui tujuan dia bekerja, para guru juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut, (3) para guru harus selalu diberitahu tentang dari setiap pekerjaannya, (4) pemberian hadiah lebih baik dari hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan, (5) usahakan untuk memenuhi kebutuhan sosio-psiko-fisik guru, sehingga memperoleh kepuasan (modifikasi dari pemikiran E. Mulayasa tentang Kepala Sekolah sebagai Motivator, E. Mulyasa, 2003).


7. Kepala sekolah sebagai wirausahawan
Dalam menerapkan prinsip-prinsip kewirausaan dihubungkan dengan peningkatan kompetensi guru, maka kepala sekolah seyogyanya dapat menciptakan pembaharuan, keunggulan komparatif, serta memanfaatkan berbagai peluang. Kepala sekolah dengan sikap kewirauhasaan yang kuat akan berani melakukan perubahan-perubahan yang inovatif di sekolahnya, termasuk perubahan dalam hal-hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran siswa beserta kompetensi gurunya.

Sejauh mana kepala sekolah dapat mewujudkan peran-peran di atas, secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kompetensi guru, yang pada gilirannya dapat membawa efek terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Kompetensi guru merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seseorang guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik berupa kegiatan, berperilaku maupun hasil yang dapat ditunjukkan..
2. Kompetensi guru terdiri dari kompetensi pedagogik, kompetensi personal, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
3. Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian penguasaan kompetensinya.
4. Kepala sekolah memiliki peranan yang strategis dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, baik sebagai educator (pendidik), manajer, administrator, supervisor, leader (pemimpin), pencipta iklim kerja maupun sebagai wirausahawan.
5. Seberapa jauh kepala sekolah dapat mengoptimalkan segenap peran yang diembannya, secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kompetensi guru, dan pada gilirannya dapat membawa efek terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA


Bambang Budi Wiyono. 2000. Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Semangat Kerja Guru dalam Melaksanakan Tugas Jabatan di Sekolah Dasar. (abstrak) Ilmu Pendidikan: Jurnal Filsafat, Teori, dan Praktik Kependidikan. Universitas Negeri Malang. (Accessed, 31 Oct 2002).

Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi Kepala Sekolah TK,SD, SMP, SMA, SMK & SLB, Jakarta : BP. Cipta Karya

———–. 2006. Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. http://www.depdiknas.go.id/ inlink. (accessed 9 Feb 2003).

Louise Moqvist. 2003. The Competency Dimension of Leadership: Findings from a Study of Self-Image among Top Managers in the Changing Swedish Public Administration. Centre for Studies of Humans, Technology and Organisation, Linköping University.

Mary E.Dilworth & David G. Imig. Professional Teacher Development and the Reform Agenda. ERIC Digest. 1995. . (Accessed 31 Oct 2002 ).

National Board for Professional Teaching Standards. 2002 . Five Core Propositions. NBPTS HomePage.. (Accessed, 31 Oct 2002).

Sudarwan Danim. 2002. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia.

Suyanto dan Djihad Hisyam. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Yogyakarta : Adi Cita.

Jumat, 22 April 2011

my script

PERNYATAAN



            Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam makalah ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Baik sebagian atau sepenuhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam proposal ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah yang sudah ditentukan.









                                                                                 Jambi,14 April 2011


                                                                                               Wakhid Oktaviansyah
                                                                                               NIM. 080646
                                                                                                       







KATA PENGANTAR


            Puji Syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga penulis dapat membuat dan menyelesaikan pembuatan proposal ini. Penulisan proposal ini tidak lepas dari hambatan dan rintangan, tetapi berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, kesulitan itu dapat teratasi. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan rasa terimakasih sedalam-dalamnya kepada :

1.                              Kedua orang tua saya yang sangat kucintai dan yang sudah susah payah mendidik saya dari orok menjadi orang yang alhamdulilah dapat melanjutkan belajar ke perguruan tinggi ini.

2.                              Kepada Bapak Dr. M. Natsir Luts M.pd, yang sudah membimbing, mengajarkan kami bagaimana cara membuat proposal yang baik dan benar.

3.                              Kepada para  teman-teman saya, khususnya jurusan Bahasa Inggris VII A. Yang telah mendukung, dan membantu menyelesaikan proposal ini.

Kemudian atas bantuan dan pengorbanan yang telah diberikan , semoga mendapat berkah dari Allah SWT.  Penulis menyadari sepenuhnya dalam penulisan proposal ini masih sangat jauh dari nilai kesempurnaan dan masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, dibutuhkan saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan.
Semoga proposal ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, dan semua pihak, serta khususnya di bidang Pendidikan.

Jambi,    January 2011

Penulis   


BAB I
PENDAHULUAN


1.1              Latar Belakang
Proses Pendidikan merupakan suatu system yang terdiri dari input, proses, dan output. Input merupakan peserta didik yang akan melaksanakan aktivitas belajar, proses merupakan kegiatan dari belajar mengajar, sedangkan output merupakan hasil dari proses yang dilaksanakan. Dari pelaksanaan proses tersebut diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing yang tinggi untuk menghadapi persaingan di era globalisasi dewasa ini.
Peningkatan kualitas sumber daya merupakan salahj satu penekanan dari tujuan pendidikan, seperti yang tertuang dalam Undang-Undang NO. 20 tahun 2003 tentang Tujuan Pendidikan Nasional BAB II Pasal 3 yang berbunyi :
“ Pendidikan Nasional bertujuan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap kreatif, mandiri dan menjadi warga negar yang demokratis serta bertanggungjawab.”
Dengan adanya Undang-Undang tersebut, maka dari waktu kewaktu bidang pendidikan dari bidang haruslah tetap menjadi prioritas dan menjadi orientasi untuk diusahakan perwujudan sarana dan prasarananya terutama untuk sekolah.salah satu tugas pokok sekolah adalah menyiapkan siswa agar dapat mencapai perkembangan secara optimal. Seorang siswa dikatakan telah mencapai perkembangannya secara optimal apabila siswa dapat memperoleh pendidikan dan prestasi belajar yang sesuai dengan bakat, kemampuan dan muinat yang dimilikinya.



Terkait dengan dunia pendidikan, untuk menciptakan manusia yang berkualitas yang berprestasi tinggi maka siswa harus memiliki prestasi belajar yang baik. Prestasi belajar merupakan tolok ukur maksimal yang telah dilakukan siswa setelah melakukan perbuatan belajar selama waktu yang telah ditentukan bersama .
Dalam suatu lembaga pendidikan, prestasi belajar merupakan indicator yang penting untuk mengukur keberhasil proses belajar mengajar. Akan tetapi tidak bias dipungkiri bahwa tinggi rendahnya prestasi siswa banyak dipengaruhi oleh factor-                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              faktor laindisamping proses pengajaran itu sendiri (Suharsimi Arikunto, 1990:21).
Prestasi belajar tidak hanya dipengaruhi oleh factor motivasi, tetapi juga dipengaruhi oleh factor disiplin. Motivasi adalah daya upaya untuk mendorong seseorang untuk melakukan sesuau atau daya penggerak dari subyek untuk melakukan suatu perbuatan dalam suatu tujuan (Sardiman, 2000:71).
Motivasi dirumuskan suatu prose sang menentukan tingkatan kegiatan serta arah umum dari  tingkah laku manusia, merupakan konsep yang berkaitan dengan konsep-konsep yang lain sepertti minat, konsep diri, sikap dan sebagainya sehingga dapat mempengaruhi siswyang dapat membangkitkan dan mengarahkan tingkah laku yang dimungkinkan untuk ditampilkan oleh para siswa (Eysenck dalam Slameto, 2003:170).
Sedangkan menurut Noehi Nasution (1993 : 8) moivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar, sehingga hasil belajar pada umumnya meningkat jika motivasi untuk belajar meningkat (Syaiful Bahri Djamarah, 2000 : 119).
Sehubungan dengan hal itu, ada tiga fungsi motivasi :
1.      Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energy. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak darisetiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2.      Menentukan arah perbuatan,yakni kearah tujutan yang hendak dicapai.Dengan demikian moivasi dapat meberikan arah dan kegiatan ang harus dikerjakan sesua dengan tujuan dengan rumusan tujuannya.               
3.      Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seseorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan akan lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu aau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.               
Menurut Soegeng Prijodarmito dalam Tulus dan Tu’u (2004:40) sikap ;, perilaku seseorang tidak dibentuk dalam sekejap. Diperlukan pembinaan, empaan yang terus menerus sejak dini.Melalui tempaan manusia menjadi kuat. melalui tempaan moral dan moral seseorang akan teruji, melalui tempaan pula menjadikan seseorang dapat mengatasi masalah-masalah dengan penuh ketabahan dan kegigihan. Melalui tempaan pula mereka mempunyai nilai tambah. Disiplin tersebut akan terwujud melalui pembinaan sejak dini, sejak usia muda dimulai dari lingkungan keluarga melalui pendidikan yang tertanam sejak usia mudayang semakin lama semakin menyatu dalam dirinya dengan bertambahnya usia.
Sehingga dalam hal ini dalam pendidikan khususnya didalam sekolah disiplin harus bias diterapkan kepada para siswa tertentu saja dengan proses dan cara penerapan sera pembinaan yang berlanjut yang menjadikan siswa mempunyai kedisiplinan dalam dunia sekolah ang berlaku dalam dunia pendidikan.
Dari uraian latar belakang masalah tersebut diatas, maka penulis dalam penelitian ini mengambil judul “ Pengaruh Motivasi dan Disiplin terhadap Prestasi Belajar dalam Berbahasa Inggris Siswa Kelas VII SMP N 30 Pematang Gajah Kabupaten Muaro Jambi Tahun Ajaran 2010/2011 “



        


                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       
1.2              Permasalahan

Dalam penelitian ini permasalahanna akan diteliti adalah sebagai berikut :
1.      Adakah pengaruh motivasi terhadap prestasi siswa kelas VII SMP N 30 Pematang Gajah Kabupaen Muaro Jambi Tahun Ajaran 2010/2011.
2.      Adakah pengaruh disiplin terhadap prestasi disiplin siswa kelas VII SMP N 30 Pematang Gajah Kabupaten Muaro Jambi Tahun Ajaran 2010/2011.
3.      Seberapa besar pengaruh motivasi dan disiplin terhadap prestasi belajar secara bersama-sama siswa kelas VII SMP N 30 Pematang Gajah Kabupaten Muaro Jambi Tahun Ajaran 2010/2011.

1.3              Tujuan Penelitian

Peneliitan ini dilakukan dengan tujuan :
1.      Untuk mengetahuai ada tidakna pengaruh motivasi terhadap prestasi belajar siswa kelas VII SMP N 30 Pematang Gajah Kabupaten Muaro Jambi Tahun Ajaran 2010/2011.
2.      Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh disiplin terhadap prestasi belajar siswa kelas VII SMP N 30 Pematang Gajah Kabupaten Muaro Jambi Tahun Ajaran 2010/2011.
3.      Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh motivasi dan disiplin terhadap prestasi belajar secara bersama-sama siswa kelas VII SMP N 30 Pematang Gajah Kabupaten Muaro Jambi Tahun Ajaran 2010/2011.

1.4              Manfaat Penelitian
1.4.1                    Manfaat Praktis
1.      Bagi siswa dapat digunaan sebagai tolak ukur hasil prestasi dalam belajar sehingga siswa dapat melihat prestasi yang telah diraihnya dan untuk dapat lebih meningkatkan prestasi belajar yang lebih baik.
2.      Bagi guru sebagai informasi agar lebih dapat meningkakan pengawasan dan proses belajar mengajar.
3.      Bagi peneliti dapat menambah ilmu pengeahuan sebagai hasil pengamatan langsung sera dapat memahami penerapan disiplin ilmu yang diperoleh selama belajar di perguruan tinggi.
1.4.2                    Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapjan dapat memberikan masukan dalam rangka penyusunan teori atau konsep-konsep baru terutama terutama untuk menerapkan motivasi dan disiplin untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.                  

1.5              Sistematika Penilaian
Secara sistematika penulisan proposal skripsi ini terdiri dari tiga bagian yaitu :
Bagian Pendahuluan, nagian, isi, dan bagian akhir.
1.      Bagian Pendahuluan
Bagian Pendahuluan ini meliputi ; halaman judul, abstrak,halaman pengesahan, kata pengantar, kata pengantar, dan daftar isi.
2.      Bagian Isi Skripsi
Bab I : Pendahuluan
Dalam bab ini diuraikan tenang latar belakang , permasalahan, tujuan, manfaat penelitian, dan sistematika skripsi.
Bab II : Landasan Teori Penelitian
Bagian ini memaparkan tentang teori yang terkait dengan motivasi dan disiplin terhadap prestasi belajar serta hipotesis.
Bab III : Metode Penelitian
Bagian ini menguraikan tentang metode penelitian, variable peneliitian, meode pengumpulan data dan metode analisis data.
3.      Bagian Akhir
Bagian akhir skripsi ini terdiri dari daftar pustaka dan lampiran-lampiran. [1]
            


BAB II
LANDASAN TEORI




            2.1       Motivasi
                        Motivasi berasal dari kaa Latin “ moveree ” yang berarti dorongan atau menggerakkan. “ Motivasi sanga diperlukan dalam pelaksanaan aktivitas karena motivasi merupakan hal yang dapat menyebabkan, menyalurkan dan mendukung perilaku manusia supaya mau bekerja dan antusias untuk mencapai hasil yang optimal” (Malayu S.P Hasibuan 2001:141).
Menurut G.R Terry yang diterjemahkan oleh J Smith D.F.M (2003:130), “ Motivasi dapa diartikan sebagai suatu usaha agar seseorang dapa menyelesaikan pekerjaanya dengan semangat karena ada tujuan yang ingin dicapai.” Manusia mempunyai motivasi yang berbeda tergantung dari banyaknya faktor seperti kepribadian, ambisi, pendidikan dan usia. Motivasi adalah suatu perubahan energy didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif atau perasaan dari reaksi untuk mencapai tujuan (Mc. Donald dalam Oemar Hamalik, 2003:106).
Menurut Syaiful Bakhri  Djamarah  (2000:114) motivasi adalah perubahan energy dalam diri seseorang itu berbentuk suatu aktivias nyata berbentuk kegiatan fisik, karena seseorang mempunyai tujuan tertentu dari aktivitasnya, maka seorang mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapainya dengan segala upaa ang dapat dilakukan untuk mencapainya.
Seseorang dikatakan berhasil dalam belajar apabila dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar, sebab tanpa mengerti apa yang akan dipelajari dan tidak memaham mengapa hal tersebut perlu dipelajari, maka kegiatan belajar mengajar sulit untuk mencapai keberhasilan. Keinginan aau dorongan inilah yang disebut sebagai motivasi.


Dengan moitvasi yang akan terdorong untuk bekerja mencapai sasaran dan tujuannya karena yakin dan sadar akan kebaikan, kepentingan dan manfaatnya. Bagi siswa moivasi ini sangat penting karena dapa menggerakan perilaku siswa kearah yang positif sehingga mampu menghadapi segala tuntutan, kesulitan serta menanggung resiko dalam belajar.
Dalam kaitanya dengan belajar, motivasi sangat erat sekali hubungannya dengan kebutuhan aktualisasi diri sehingga motivasi paling besar pengaruhnya pada kegiatan belajar siswa yang bertujuan unuk mencapai prestasi tinggi. Apanila tidak ada motivasi belajar dalam diri siswa, maka akan menimbilkan rasa untuk belajar, baik dalam mengikuti proses belajar mengejar maupun mengerjakan tugas-tugas individu dari guru. Orang yang mempunyai motivasi yang tinggi dalam belajar maka akan timbul minat yang besar dalam mengerjakan tugas, membangun sikap dan kebiasaan belajar yang sehat melalui penyusunan jadwal belajar dan melaksanakannya dengan tekun.
Indikator dari motivasi, yaitu :

1.   Cita-cita
Cita-cita adalah suatu tarhet yang ingin dicapai. Arget ini diartikan sebagai tujuan yang ditetapkan dalam suatu kegiatan yang mengandung makna bagi seseorang. Munculnya cita-cita seseorang disertai dengan pengembangan akal, moral kemauan, bahasa dan nilai-nilai kehidupan yang juga menimbulkan adanya perkembangan kepribadian.

2.         Kemampuan Belajar
Setiap siswa nemiliki kemampuan belajar ang berbeda. Jal ini diukur melalui taraf perkembangan berfikir siswa, dimana siswa ang taraf perkembangan berfikirnya konkrit tidak sama dengan siswa yang sudah sampai pada taraf perkembangan berfikir rasional. Siswa yang merasa dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu, maka akan mendorong dirinya berbuat sesuau agar dapat mewujudkan tujuan yang ingin diperolehnya dan sebaliknya.  


3.         Kondisi Siswa
Kondisi siswa dapat diliha dari kondisik fisik dan kondisi psikologis, karena siswa adalah majhluk yang terdiri dari kesatuan psikofisik. Kondisi siswa lebih bias cepat diketahui dari pada kondisi psikologis. Hal ni dikarenakan kondisi fisik lebih jelas menunjukkan gejalanya dari pada kondisi psikologis.       
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    
4.         Kondisi Lingkungan
Kondisi lngkungan merupakan unsur yang datang dari luar diri siswa yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Lingkungan fisik sekolah, sarana dan prasarana perlu ditata dan dikelola agar dapat menyenangkan dan membuat siswa merasa nyaman untuk belajar. Kebutuhan emosional psikologis juga juga perlu mendapat perhatian, misalnya kebutuhan rasa nyaman, berprestasi, dihargai, diakui yang harus dipenuhi agar motivasi belajar timbul dan dapa dipertahankan.

5.         Unsur-unsur dinamis dalam belajar
Unsur-unsur dinamis adalah unsur-unsur ang keberadaanya didalam proses belajar tidak stabil, kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah  dan bahkan ilang sama sekali. Misalnya gairah belajar, emosi siswa dan lain-lain. Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan dan pikiran yang nmengalami perubahan selama proses  belajar, kadang-kadang kuat aau lemah.

6.         Upaya guru membelajarkan siswa
Adalah usaha guru dalam mempersiakan diri untuk membelajarkan siswa mulai dari penguasaan materi, cara menyampaikannya, menarik perhatian siswa dan mengevaluasi hasil belajar siswa.





Motivasi mempunyai fungsi yang sangat penting dalam belajar siswa, karena motivasi akan mmenentukan intensitas usaha belajar ang dilakukan oleh siswa. Hawley (Yusuf 2003:14) menyatakan bahwa para siswa yang memiliki moivasi yang tinggi, belajarna lebih baik dibandingkan dengan para siswa yang memiliki mootivasi yang rendah. Hal ini berari siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan tekun dalam belajar dan terus belajar secara continue anpa mengenal putus asa serta dapat mengesampungkan hal-hal yang dapat menggaggu kegiatan belajar mengajar.[2]

        Menurut Sudirman (2004:83) fungsi motivasi adalah :
1.      Mendorong manusia untuk berbuat. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2.      Menentukan arah perbuatan, yaitu kearah ujuan yang hendak dicapai, dengan demikian motivasi dapat member arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3.      Menyeleksi perbuatan, yaitu menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Jenis-jenis motivasi belajar menurut Sudirman AM(2001:88-90) motivasi dibagi menjadi dua tipe atau kelompok, yaitu intrinsic dan ekstrinsik :
1.      Motivasi intrinsic
Merupakan motive-motive yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam dirri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Contohnya seseorang yang senang membaca tidak usah disuruh atau mendorongnya,ia sudah rajin membaca buku untuk dibacanya.




2.      Motivasi extrinsic
Merupakan motif-motif yang aktif yang berfungsinya karena adanya rangsangan dari luar. Contohnya seseorang itu belajar, karena tahu besok pagi ada ujian dengan harapan akan mendapat nilai baik, atau agar ingin mendapat hadiah. Jika kalau diliat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung bergayut (menempel) dengan essensi apa yang dilakukannya itu.

2.2              Disiplin
Displin bagi peserta didik adalah hal yang rumit dipelajari sebab merupakan hal yang kompleks banyak kaitannya, yaitu terkait dengan pengetahuan sikap dan perilaku. Masalah disiplin yang dibahas dalam penelitian ini adalah disiplin yang dilakukan oleh para siswa dalam kegiatan belajarnya banyak dirumah maupun disekolah.
Adapun pengertian disiplin yaitu :
1)                  Menurut Ekosuswoyo dan Rachman (2000:97), disiplin hakikatnya adalh pernyataan sikap mental individu maupun masyarakat yang mencerminkan rasa ketaatan, kepatuhan, yang didukung oleh kesadaran untuk menunaikan tugas dan kewajiban dalam rangka pencapaian tujuan.
2)                  Menurut Arikunto (1990:144), didalam pembicaraan disiplin dikenal dengan dua istilah yang pengertiannya hampir sama tetapi pembentukannya secara berurutan. Kedua istilah itu adalah displin dan ketertiban. Ketertiban menunjuk kepada kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan dan tata tertib karena didorong oleh sesuatu dari luar misalnya karena ingin mendapat pujian dari atasan. Selanjutnya pengertian disiplin atau siasat menunjuk pada kepatuhan seseorang dalam mengikuti tata tertib karena didorong kesadaran yang ada pada kata hatinya. Itulah sebabnya biasanya ketertiban itu terjadi dahulu, kemudian berkembang menjadi siasat.
3)                  Menurut Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) (1997:11), maka kata disiplin dapat dipahami dalam kaitannya dengan latihan yang memperkuat, koreksi dan sanksi, kendali atau terciptanya keterlibatan dan keteraturan, serta system aturan tata laku.


Adapun indicator yang dapat menunjang disiplin belajar, yaitu :
1)      Menaati tata tertib Sekolah
2)      Perilaku kedisiplinan didalam kelas
3)      Disiplin dalam menepati jadwal belajar
4)      Belajar secara teratur

2.3              Prestasi Belajar

Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar diperlukan adanya evaluasi yang nantinya akan dijadikan sebagai tolak ukurmaksimal yang telah dicapai siswa setelah melakukan kegiatan belajar mengajar selama waktu yang telah ditentukan. Apabila pemberian materi telah cukup , guru dapat melakukan test yang hasilnya akan digunakas sebagai ukuran dari prestasi belajar yang bukan hanya terdiri dari nilai mata pelajaran saja tetapi juga mencakup nilai tingkah laku siswa selama berlangsungnya proses belajar mengajar.

Menurut Slameto (2003:54-71) ada beberapa factor yang mempengaruhi belajar anak antara lain :

1.      Factor-factor intern, meliputi : F. jasmaniah, f.psikologis, f. kelelahan.
2.      Factor-factor extern, meliputi : f. keluarga, f. sekolah, f. masyarakat.










2.4              Kerangka Berfikir
Adapun bagan-bagannya yaitu :
Motivasi
1)      Cita-cita
2)      Kemampuan belajar
3)      Kondisi Siswa
4)      Kondisi Lingkungan
5)      Unsur-unsur dinamis dalam belajar                                                                                                         
6)      Upaya guru membelajarkan siswa                                                                                          
Prestasi belajar
Dilihat dari rata-rata nilai     raport.
Disiplin belajar
1.      Menanti tata tertib sekolah
2.      Perilaku kedisiplinan didalam kelas
3.      Disiplin dalam menepati jadwal belajar
4.      Belajar secara teratur

2.5              Hipotesis
Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara (suharsimi Arikunto). Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah : “ Ada Pengaruh Yang Signifikan Antara Motivasi Dan Disiplin Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas Vii Smp N 30 Pematang Gajah Muaro Jambi Tahun Ajaran 2010/2011 “.








BAB III
METODE PENELITIAN



3.1  Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian Tarmdizi Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh siswa kelas VII SMP N 30 Pematang Gajah Muaro Jambi Tahun Ajaran 2010/2011.

Table 3.1
Populasi Penelitian
NO
Kelas
L
P
Jumlah
1
VII IPA I
12
31
43
2
VII IPA II
13
30
43
3
VII IPA III
13
30
43
4
VII IPS I
19
23
43
5
VII IPS II
20
23
43
6
VII IPS III
20
23
43
7
VII Bahasa
17
24
41

Jumlah
114
184
298
   
3.2  Sampel Penilain
4.      Sampel merupakan sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti oleh saudara Tarmidzi . untuk mengetahui jumlah sampel yang akan diambil dalam penelitian ini, peneliti menggunakan rumus slovin, yaitu :
5.     
6.      Keterangan :
7.      n          = ukuran sample
8.      N         = ukuran populasi
9.      e          = persen kelonggaran ketidak telitian karena kesalahan pengambilan sample yang masih ditaksir atau diinginkan 100%.
10. 
11.  Karena populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII yang terbagi dalam 7 kelas dengan banyak siswa.

3.3  Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Studi ini dapat digolongkan ke dalam studi kuasi-eksperimental. Rancangan yang digunakan adalah dalam kelompok tack desain pretest-posttest yang melibatkan kelompok mahasiswa yang berasal dari kelompok eksperimen dan satu milik kelompok kontrol. Dalam studi ini, perlakuan yang diberikan adalah penerapan pembelajaran kooperatif dalam proses belajar mengajar.

3.4  Variable Study
Ada dua variabel. Mereka adalah variabel bebas dan terikat. Variabel bebas dari penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif. Variabel ini diwakili oleh X. variabel dependen adalah motivasi siswa yang diwakili oleh Y.
The design of the research can be shown in this table.
Group
Independent
Dependent
Percobaan
X
Y
Kontrol
-
Y






3.5  Populasi dan Desain Penelitian
Populasi pada penelitian ini adalah dua kelas dari siswa kelas VII SMP N 30 Pematang Gajah Kabupaten Muaro Jambi Tahun Ajaran 2010/2011.
No.
Klasifikasi Kelas (Group)
Jumlah Siswa
1.
2 A
40 students
2.
2 B
40                  tudents

Kelompok seleksi untuk percobaan dan non-eksperimen (kelompok kontrol) akan menggunakan lempar koin. Kelompok eksperimen akan diberikan kegiatan pembelajaran kooperatif dan tidak ada pengobatan untuk kelompok kedua. Berikut adalah distribusi pengobatan dalam penelitian.
Group
Kelas
Perlakuan
Jumlah Siswa
Percobaan
2A
Pembelajaran Kooperative
40
Kontrol
2B
-
40


3.6  Instrumen Penelitian
1. Instrumen Penelitian
                        Penelitian ini akan menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian untuk mendapatkan data untuk melihat hasil yang signifikan antara motivasi siswa.
2.
 Validitas Instrumen
                        Untuk melihat validitas instrumen, peneliti menggunakan rumus Korelasi Product Moment.






3. Keandalan dari instrumen
                        Peneliti menggunakan Formula Alpha untuk memeriksa keandalan instrumen.



3.7   Teknik Pengumpulan Data
                        Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner motivasi untuk memahami motivasi siswa terhadap pembelajaran bahasa Inggris sebelum dan sesudah perlakuan, sebuah kuesioner yang berisi beberapa item yang dikembangkan oleh peneliti.
3.8   Teknik Analisis Data
                        Teknik analisis data adalah meneliti efek dari hasil kuesioner motivasi. Adapun analisis kuesioner motivasi, respon setiap siswa terhadap beberapa item dalam kuesioner dinilai dengan bantuan perangkat lunak komputer SPSS. Hasil statistik dari kuesioner tersebut dibandingkan untuk percobaan dan analisis kelompok kontrol.[3]














PENUTUP

Kesimpulan
 

Jadi, motivasi merupakan hal sangat penting dalam rangka seseorang menjalankan hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan dirinya. Ada banyak hal yang perlu dilakukan seseorang dalam rangka mengembangkan dirinya sendiri, namun bilasemua usaha itu tidak dilakukan dengan motivasi yang kuat, maka hasilnya pun tidak akan memuaskan sebagaimana yang diharapkan. Seperti yang diungkapkan oleh Mc Donald dalam Oemar Hamalik (2003:106) yang menyatakan bahwa motivasi merupakan perubahan energy didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan afektid atau perasaan dan reaksi untuk mencapai suatu tujuan.



















DAFTAR PUSTAKA


            Hamalik, Oemar. 2003. Prinsip-prinsip Managemen. Terjemahan J mith D. F. M. Jakarta : Bumu Aksara
            Arikunto, Suharsimi. 1990. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta : PT. Rineka Cipta



[1] Hamalik, Oemar. 2003. Prinsip-prinsip Managemen. Terjemahan J mith D. F. M. Jakarta : Bumu Aksara

[2] Ibid . Hamalik, Oemar. 2003. Prinsip-prinsip Managemen. Terjemahan J mith D. F. M. Jakarta : Bumu Aksara

[3] Arikunto, Suharsimi. 1990. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta : PT. Rineka Cipta